Rabu, 18 Januari 2017

Fakta Mengejutkan! Bunuh Diri Penyebab Utama Kematian Tentara Israel


TEL AVIV [Mata Pena Pers] – Bunuh Diri menjadi penyebab terbanyak dari kematian tentara Israel, IDF (Israel Defence Force), sontak fakta mengejutkan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Selain tentara Israel, kasus bunuh diri juga marak terjadi di kalangan tentara AS dan Inggris, kebanyakan karena terganggunya kesehatan mental mereka dan stress berat pasca perang.
Beberapa waktu lalu, pejabat dari Direktorat Sumber Daya Manusia IDF  mengungkapkan bahwa penyebab paling umum kematian di antara tentara Israel (IDF) pada 2016 adalah bunuh diri, mengutip laporan Times of Israel.
Statistik IDF yang dirilis pada hari Ahad (08/01) menunjukkan bahwa dari 41 tentara Israel yang tewas pada tahun 2016, 15 penyebab kematian adalah bunuh diri, dan semuanya adalah laki-laki.
Semua tentara yang melakukan bunuh diri adalah laki-laki. 12 dari mereka adalah tentara wajib militer, dua tentara karir dan satu tentara cadangan.
Empat tentara IDF lainnya tewas selama operasi militer, sementara sembilan tentara IDF lainnya tewas akibat kecelakaan, dan tujuh lainnya karena kecelakaan mobil saat bertugas. Sisanya enam personil IDF meregang nyawa akibat penyakit atau alasan-alasan medis lainnya.
Sementara itu, data lebih banyak menunjukkan tentara laki-laki melakukan bunuh diri daripada tentara perempuan, biasanya sekitar 90 persen dari tentara Israel yang memutuskan bunuh diri adalah tentara laki-laki, dan tidak ada kasus bunuh diri pada tentara perempuan dalam satu tahun berjalan, fakta ini dianggap oleh IDF sebagai suatu hal yang langka.
Laporan IDF tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada minoritas Yahudi tertentu secara demografi, seperti Yahudi Ethiopia, yang membentuk persentase proporsional besar dalam kasus bunuh diri tentara Israel.
Jumlah tentara IDF yang bunuh diri tahun lalu sama dengan tahun 2015, dan kasus bunuh diri juga menjadi penyebab utama kematian tentara IDF.
Pada tahun 2014, jumlah tentara IDF yang menghilangkan nyawanya sendiri juga mencapai 15 jiwa, akan tetapi bunuh diri tidak menjadi penyebab utama kematian personel IDF di tahun 2014 itu.
Laporan resmi itu juga menyebutkan bahwa penduduk yang “lemah”, seperti imigran baru, tidak termasuk yang banyak melakukan bunuh diri, dan ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada 2015, tiga tentara IDF asal Ethiopia menghilangkan nyawanya sendiri.
Peristiwa bunuh diri di kalangan tentara Israel ini semakin marak, meskipun militer Israel telah melonggarkan peraturan yang melarang personelnya membawa pulang senjata api saat masa cuti panjang.
Laporan resmi IDF itu juga menyebutkan bahwa militer masih sangat ketat terhadap para personilnya yang membawa senjata pulang ke rumah. Hal itu tidak bisa dilakukan sesuka hati mereka.
Seorang pejabat militer mengatakan kepada Haaretz saat menanggapi maraknya kasus bunuh diri dengan berujar bahwa, “Tidak mungkin kami mengetahui setiap kasus yang terjadi sebelumnya, tetapi kami melakukan banyak hal untuk menangani masalah ini.”
Lebih lanjut Ia pun menjelaskan bahwa tentara (IDF) lebih rentan mengalami depresi selama liburan, dan karena itu para Komandan diminta agar memverifikasi keberadaan anak buahnya kala itu, khususnya mereka yang diketahui mengalami gangguan emosional.[MP/PM]

Sepanjang 2016, Rezim Assad Bantai Rakyat Suriah Dengan 13.000 Bom Barrel


DAMASKUS [Mata Pena Pers] – Helikopter-helikopter  tempur rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad telah menjatuuhkan 13.000 bom barel di kawasan yang dikendalikan kubu oposisi Suriah sepanjang tahun 2016, seperti dilansir MEMO.
Belasan ribu bom barrel Assad ini mengakibatkan ribuan rakyat Suriah tewas dan menderita luka-luka, sebagian besar diantaranya merupakan warga sipil.
Dalam melancarkan serangan-serangan bom barrelnya, Bashar al-Assad tidak membedakan sasaran antara orang tua, anak-anak, ataupun wanita; semuanya merasakan kematian, bahkan jika mereka tidak berhasil dibunuh.
Sejak revolusi meletus di Suriah, Al-Assad mengandalkan peledak barel sebagai senjata utama yang digunakan dalam perang melawan rakyatnya sendiri, karena bom barrel itu murah dan sangat mematikan.
Bom barrel juga merupakan senjata primitif dan senjata khusus yang bertujuan untuk membunuh dan menghancurkan kota, karena tidak memiliki manfaat militer.
Hal ini dikarenakan peledak barel yang digunakan oleh rezim Assad  adalah ledakan acak yang tidak terkontrol, yang berarti mereka tidak dapat diarahkan dan dampak ledakannya tidak dapat dikendalikan.[MP/PM]

Presiden AS Donald Trump Undang Para Tokoh Ektrimis Yahudi di Pelantikannya


WASHINGTON [Mata Pena Pers] – Presiden terpilih AS, Donald. J Trump lagi-lagi membuat kontroversi setelah Ia mengundang para pemimpin pemukim Ilegal Yahudi Israel yang tinggal di wilayah Palestina, untuk menghadiri pelantikannya pada 20 Januari mendatang, demikian menurut pernyataan lembaga terkait para ektrimis Yahudi itu.
Media pemerintah Turki, Anadolu Agency mengutip laporan radio Israel yang menyebutkan bahwa Direktur Jenderal Dewan Pemukim [Yahudi], Shin Adler  mengklaim bahwa seorang politisi Amerika yang berhubungan dekat dengan Trump menyerahkan surat undangan kepada “Settlers Council” untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden AS .
Ketua “Yesha Settlers Council”, Oded Revivi, disebut-sebut menjadi tokoh ektrimis Yahudi yang akan memimpin delegasi para pemukim Ilegal pada acara pelantikan Trump.
Revivi, dilaporkan juga akan bergabung dengan Benny Kasriel, Israeli settlement of Ma’aleh Adumim [Ketua Permukiman Israel di Ma’aleh Adumim], yang terletak di dekat Yerusalem.
Para Tokoh pemukim ilegal Yahudi mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menyambut baik undangan Trump.
Revivi menyebut undangan [Trump], sebagai “indikasi yang jelas” bahwa pemerintah baru AS memahami pentingnya para organisasi pemukim Yahudi [Ilegal], dikutip dari  surat kabar, The Times of Israel.
Revivi juga mengatakan bahwa Ia sangat menantikan untuk bekerja sama dengan “teman-teman baru” para pemukim Yahudi di Gedung Putih selama pemerintahan Trump. [PM/MP]

Jurnalis Foto Asal Afrika Selatan Ditangkap Kelompok Bersenjata di Suriah


JOHANNESBURG [Mata Pena Pers] – Seorang wartawan foto Afrika Selatan dilaporkan telah diculik di Suriah, wilayah yang dekat dengan perbatasan Turki, demikian menurut laporan organisasi bantuan “Gift of the Givers Foundation“ pada Sabtu (14/01).
Gift of the Givers foundation mengatakan bahwa Shiraaz Mohamed telah diculik pada  Selasa (10/01) bersama dengan 2 supirnya ketika kendaraan mereka dihentikan.
Dr. Imtiaz Sooliman dari Yayasan Gift of the Givers mengatakan pada saluran televisi lokal “eNCA” bahwa 2 supir itu kemudian dibebaskan, dikutip dari Anadolu.
Dr. Sooliman mengungkapkan, Ia diberitahu sekelompok bersenjata yang mengaku hanya akan membebaskan Shiraaz Mohammed setelah menginterogasinya, akan tetapi 4 hari kemudian, Shiraaz masih ditahan.
Rakyat Afrika Selatan melalui media sosial telah menyerukan permohonan pembebasannya.
Kementerian Luar Negeri Afrika Selatan mengatakan pihaknya akan berurusan dengan masalah ini.
Suriah, berada di peringkat teratas diantara negara-negara paling mematikan bagi para jurnalis untuk bekerja, sepanjang 2016 tercatat 14 wartawan dibunuh di Suriah, dari total 48 jurnalis di seluruh dunia, demikian menurut Komite Perlindungan Jurnalis, Committee to Protect Journalists (CPJ) yang berbasis di New York.[MP/PM]


Mesir Mulai Kerahkan Pasukan ke Suriah


MOSKOW [Mata Pena Pers] – Kementerian Pertahanan Rusia dikabarkan telah mengumumkan bahwa Mesir akan mengerahkan pasukannya ke Suriah untuk mengawasi pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai antara pasukan rezim Assad dan pasukan oposisi, demikian menurut situs Israel, “Rotter”.
Situs berita Rotter menyebutkan bahwa pasukan Mesir akan tiba di Suriah awal pekan depan.
Dalam laporan itu, sejumlah petugas Mesir dikabarkan telah berada di Suriah untuk membuka jalan bagi kedatangan pasukan lanjutan.
Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov meminta Mesir sebagai mitra Moskow untuk bergabung dengan negaranya bersama dengan Turki dan Iran dalam pembicaraan tentang masa depan Suriah dan terkait pelaksanaan gencatan senjata, dikutip dari “Rotter”.
Presiden Putin telah berbicara dengan Presiden Mesir As-Sisi dan berjanji bahwa izin penerbangan antara Rusia dan Mesir akan segera dilanjutkan.
Rusia telah memutuskan menghentikan penerbangan maskapainya ke bandara Mesir setelah pesawat Rusia ditembak jatuh pada Oktober tahun 2015 di wilayah Semenanjung Sinai, Mesir. Insiden ini menewaskan semua penumpang sebanyak 217 jiwa. Penerbangan Metrojet jatuh setelah lepas landas dari Bandara Internasional Mesir, Sharm El Sheikh.
Situs berita Rotter mengatakan bahwa Mesir akan bergabung dengan trio [Russia-Turki-Iran] untuk membahas masa depan Suriah, dan ini akan menjadi sukses besar bagi Rusia, mengingat hubungan tegang Mesir dengan Turki di satu sisi dan hubungan panas dengan Iran di sisi lainnya.
Kesepakatan diplomatik-militer ini juga akan menyita perhatian, apalagi tentang bagaimana respon AS atas langkah Mesir ini, mengingat bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tidak terlibat dalam pembicaraan terkait konflik Suriah ini. [MP/IZ/PM]

Minggu, 15 Januari 2017

Oposisi Suriah Dukung KTT Perdamaian Suriah di Astana


Oposisi Suriah Dukung KTT Perdamaian Suriah di Astana
ANKARA [Mata Pena Pers] – Komite perwakilan politik oposisi Suriah mengumumkan pada Sabtu bahwa mereka akan mendukung KTT perdamaian Suriah di ibukota Kazakhstan, Astana, pada 23 Januari, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (15/01/2017).
Menurut pernyataan tertulis yang dirilis setelah pertemuan dua hari di Riyadh, Komite Negosiasi Tinggi (the High Negotiations Committee-HNC) menyuarakan “kesiapan untuk mendukung delegasi militer yang akan dibentuk oleh oposisi untuk menghadiri pembicaraan” dan menyatakan “berharap bahwa pertemuan tersebut akan memperkuat gencatan senjata.”
Kelompok ini juga mengatakan Astana “membuka jalan bagi pembicaraan politik” di Jenewa pada tanggal 8 Februari, mengungkapkan rasa terima kasih bagi negara-negara yang mengerahkan usaha untuk pertemuan Astana.
Negosiasi untuk mencapai resolusi bagi perang enam tahun di Suriah akan dimulai di ibukota Kazakhstan, Astana, antara rezim Suriah dan oposisi.
Menyusul kesepakatan gencatan senjata Suriah bulan lalu, pertemuan Astana terjadi sebagai bagian dari upaya Turki dan Rusia untuk mempromosikan solusi politik di Suriah yang dilanda perang.
Suriah telah terkunci dalam perang global sejak awal 2011, ketika rezim Syiah Bashar al-Assad menumpas aksi unjuk rasa dengan keganasan militer tak terduga.
Sejak itu, ratusan ribu orang diyakini telah tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat konflik. [MP/JI/AA]

Faksi Revolusioner Suriah Tegaskan Satu Suara Terkait Konferensi Astana


Faksi Revolusioner Suriah Tegaskan Satu Suara Terkait Konferensi Astana
ANKARA [Mata Pena Pers]Faksi Revolusi Suriah dan tokoh politik pada hari Kamis (12/01/2017) melanjutkan konsultasi di ibukota Turki Ankara, dalam rangka membuat keputusan akhir tentang kesepakatan gencatan senjata di Suriah, dan sesi rencana negosiasi “Astana” yang akan diselenggarakan tanggal 23 bulan ini.
Beberapa tokoh menghadiri konsultasi mengeluarkan komentar untuk ElDorar AlShamia menekankan bahwa beberapa jam mendatang diharapkan akan terjadi persatuan faksi militer dan tokoh oposisi politik, menyangkut negosiasi di Astana dan perjanjian gencatan senjata saat ini, sekaligus pada saat yang sama membantah keras argumen yang diajukan oleh beberapa media tentang terjadinya perbedaan dan perpecahan antara faksi-faksi, mengatakan bahwa situasi itu normal, dan dalam proses konsultasi, tapi telah sepakat untuk mencapai satu pendapat, apakah penolakan atau penerimaan.
Sumber itu menambahkan: “Kami telah menerima dukungan dari sekutu faksi revolusi Suriah, berbicara di sini tentang Qatar dan Turki, dan mereka telah meyakinkan kami bahwa mereka akan mendukung apa pun pilihan kami, dan bahwa mereka akan mendukung cara yang akan dipilih faksi untuk menyelesaikan masalah Suriah.”
Eskalasi rezim Suriah dan sekutunya yang belum pernah terjadi sebelumnya, banyak terlihat di beberapa daerah Suriah pada hari Kamis, di mana provinsi Idlib mengalami penembakan berat yang menewaskan 13 warga sipil di berbagai bagian provinsi, saat milisi Syiah Hizbullah Lebanon meningkatkan serangan di daerah Wadi Barada, dengan dukungan helikopter dan pesawat tempur rezim Nushairiyah Assad, saat penembakan melanda wilayah Hama dan Rif Dimashq. [MP/JI/AS]